JAKARTA, BanoaTV — Pemuda Fagogoru Jabodetabeka-Banten mematangkan konsolidasi menuju Musyawarah Besar (Mubes) Ke-I dan Deklarasi Pemuda Fagogoru Jabodetabeka-Banten. Agenda tersebut diproyeksikan bukan sekadar seremoni organisasi, melainkan momentum untuk menyatukan gagasan dan arah perjuangan generasi muda Fagogoru di tanah rantau.

Mubes Ke-I dinilai menjadi langkah penting untuk membangun fondasi organisasi yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar identitas dan nilai-nilai Fagogoru.

Di tengah perubahan sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan yang berlangsung cepat, pemuda Fagogoru dituntut tidak hanya menjadi penonton. Generasi muda harus mengambil posisi sebagai subjek yang mampu membaca perubahan, menyampaikan gagasan, mengawal kepentingan masyarakat, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi daerah asal dan kehidupan kebangsaan.

Koordinator Pemuda Fagogoru Jabodetabeka-Banten, Riswan Sanun, menegaskan bahwa Mubes Ke-I harus menjadi momentum kebangkitan kesadaran kolektif pemuda Fagogoru.

“Kita tidak sedang membangun organisasi hanya untuk memiliki struktur dan kepengurusan. Kita sedang membangun kesadaran kolektif. Fagogoru harus menjadi kekuatan moral, intelektual dan sosial yang mampu mengikat pemuda dalam satu semangat persaudaraan dan tanggung jawab terhadap masa depan,” tegas Riswan.

Menurutnya, identitas Fagogoru tidak boleh berhenti sebagai simbol budaya atau slogan yang hanya diucapkan dalam ruang-ruang pertemuan. Nilai Fagogoru harus diterjemahkan menjadi etika gerakan dan keberanian mengambil tanggung jawab sosial.

“Pemuda Fagogoru harus berani berpikir, berani bersuara, dan berani mengambil tanggung jawab. Kita tidak boleh menjadi generasi yang hanya bangga dengan identitas, tetapi tidak memiliki gagasan tentang masa depan. Identitas harus melahirkan keberanian untuk memperjuangkan keadilan, pendidikan, kemajuan, dan martabat masyarakat,” ujar Riswan.

Ia menilai, keberadaan pemuda Fagogoru di Jabodetabeka-Banten memiliki posisi strategis karena berada di pusat dinamika nasional. Karena itu, ruang perantauan harus dimanfaatkan sebagai ruang belajar, membangun jaringan, memperkuat kapasitas dan melahirkan gagasan yang dapat dibawa pulang untuk kepentingan daerah.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Mubes Ke-I dan Deklarasi Pemuda Fagogoru Jabodetabeka-Banten, Arahyl Made, memastikan panitia terus melakukan konsolidasi untuk mematangkan seluruh rangkaian kegiatan.

Arahyl menegaskan bahwa Mubes harus ditempatkan sebagai ruang demokrasi pemuda, bukan sekadar forum untuk memilih siapa yang akan menduduki posisi tertentu dalam struktur organisasi.

“Mubes Ke-I bukan sekadar memilih ketua atau membentuk kepengurusan. Yang jauh lebih penting adalah merumuskan apa yang ingin kita perjuangkan bersama, bagaimana organisasi ini bekerja, dan ke mana Pemuda Fagogoru Jabodetabeka-Banten akan diarahkan ke depan,” ujar Arahyl.

 

Ia mengatakan, seluruh peserta nantinya diharapkan dapat membangun tradisi musyawarah yang sehat, terbuka, dan bertanggung jawab.

“Kita ingin Mubes ini menjadi ruang pertarungan gagasan, bukan pertarungan kepentingan pribadi. Silakan berbeda pandangan, tetapi jangan kehilangan persaudaraan. Karena kekuatan Fagogoru justru terletak pada kemampuan kita merawat perbedaan dalam satu ikatan persaudaraan,” tegasnya.

Arahyl menyampaikan bahwa Musyawarah Besar (Mubes) Ke-I dan Deklarasi Pemuda Fagogoru Jabodetabeka-Banten akan diselenggarakan pada 19 September 2026. Menurutnya, seluruh persiapan terus dimatangkan agar agenda tersebut dapat menjadi momentum penting dalam membangun fondasi organisasi dan memperkuat persatuan pemuda Fagogoru di wilayah Jabodetabeka-Banten.

Arahyl juga mengajak seluruh pemuda Fagogoru untuk mengambil bagian dalam proses konsolidasi tersebut. Menurutnya, organisasi yang kuat hanya dapat lahir dari partisipasi dan kesadaran bersama.

Dari tanah rantau, Pemuda Fagogoru ingin menegaskan satu pesan, identitas tidak boleh hanya diwariskan, tetapi harus diperjuangkan; persaudaraan tidak boleh hanya dirayakan, tetapi harus diwujudkan; dan masa depan tidak boleh hanya dibicarakan, tetapi harus mulai dibangun.

 

Red, BanoaTV