JAILOLO, BanoaTV – Memanfaatkan momentum Natal, Serikat Mahasiswa Halmahera Barat (Sema-Habar) Ternate menggelar diskusi bertajuk Bacarita Warga Dampak Geothermal di Maluku Utara sebagai upaya memperkuat solidaritas masyarakat yang terdampak proyek panas bumi (geothermal) di sejumlah wilayah Halmahera Barat.
Ketua Sema-Habar Ternate, Riwan Basir, menegaskan bahwa kegiatan ini sengaja digelar untuk menyatukan suara warga yang sedang berjuang menghadapi ekspansi perusahaan panas bumi, khususnya Geo Dipa Energi yang kini mulai beroperasi di Desa Idamdehe Gamsungi dan Idamdehe, Kecamatan Jailolo.
“Warga tidak boleh merasa berjuang sendirian. Korporasi besar membangun kekuatan dalam proyek geothermal, maka kita sebagai masyarakat juga harus saling menguatkan,” tegas Riwan.
Sema-Habar Ternate juga mengkritik keras minimnya keterbukaan informasi dari pemerintah maupun perusahaan terkait dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). Menurut Riwan, Amdal proyek geothermal yang mereka dapatkan justru berbahasa Inggris dan bukan diberikan secara resmi oleh pemerintah daerah maupun Kementerian ESDM.
“Bagaimana mau sosialisasi ke warga jika dokumen Amdalnya saja berbahasa Inggris? Ini bentuk pembohongan publik,” ujar Riwan.
Ia menyebut, klaim perusahaan mengenai pelibatan warga dalam proses sosialisasi tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Sema-Habar Ternate, proyek geothermal berpotensi masuk ke Desa Payo, Pateng, Bobo Jiko, Bobo Induk, hingga Idamdehe. Dari pemetaan yang dilakukan, terdapat ancaman serius terhadap sumber mata air utama warga Idamdehe Gamsungi dan Idamdehe, yaitu Ake Cipu dan Ake Dolla.
Jika pembangunan terus dilakukan, dua sumber air yang menjadi tumpuan hidup masyarakat adat Wayoli, Sahu, dan Jailolo itu berpotensi tercemar dan kehilangan debit air.
Dalam kegiatan diskusi, Sema-Habar Ternate turut membagikan buku-buku kajian dari berbagai jaringan gerakan lingkungan di Indonesia sebagai bahan pembelajaran bagi warga. Mereka menilai penting untuk mempelajari perjuangan daerah lain yang telah menghadapi proyek serupa, seperti Flores Timur, Dieng Wonosobo, Mandailing Natal, hingga Padarincang Banten.
“Kita harus belajar dari daerah lain agar perjuangan ini semakin kuat,” kata Riwan.
Sema-Habar Ternate menegaskan bahwa mereka tidak anti pembangunan. Namun pembangunan harus berpihak pada kepentingan masyarakat Halmahera Barat yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan nelayan. Mereka menolak pembangunan yang justru memiskinkan warga dan memaksa mereka beralih profesi menjadi buruh.
Riwan berharap pembangunan di Halmahera Barat dapat berorientasi pada kesejahteraan masyarakat serta pelestarian lingkungan hidup.
Sebagai penutup, Riwan memastikan bahwa Sema-Habar Ternate akan tetap konsisten mengawal isu lingkungan dan pembangunan di Halmahera Barat.
“Kami akan terus melawan perusahaan panas bumi. Save Pabos-Idamdehe, Sahu, Wayoli, dan Galela,” tutupnya.
Reporter: Iwan
Editor: Redaksi BanoaTV




Tinggalkan Balasan