BANOATV – Bagi korporasi, buruh hanyalah roda yang diputar, bukan manusia yang dihargai. Keuntungan dipungut habis ke pusat, keringat dan lelah ditinggalkan di tanah tempat kita berpijak.
Mereka berteriak soal pertumbuhan ekonomi, tapi membungkam mulut soal upah yang tak layak, perlindungan yang tiada, dan masa depan yang digantung tanpa kepastian.
Emas dan nikel dari tanah kami mengalir deras ke kas perusahaan, tapi piring makan keluarga kami tetap kosong. Kekayaan alam kami jadi kemewahan mereka, sementara kami hidup dalam kemiskinan buatan.
Korporasi pandai berbicara tentang aturan, tapi pandai pula melanggarnya demi keuntungan. Bagi mereka, keselamatan kerja adalah biaya, bukan kewajiban; kesejahteraan buruh adalah beban, bukan hak mutlak.
Kontrak kerja dibuat seolah-olah perlindungan, padahal itu jaring yang mengikat membuat kami bekerja tanpa jeda, berjuang tanpa sandaran, dan dipecat tanpa alasan yang adil.
Mereka menyebutnya investasi, tapi kenyataannya adalah eksploitasi: mengambil segalanya, memberikan sesedikit mungkin, dan membiarkan kami menanggung semua risiko dan penderitaan.
Di bawah langit yang sama, mereka hidup mewah di atas keringat kami, sementara kami yang membangun kekayaan itu hidup dalam ketidakpastian yang tak berkesudahan.
Kalimat Penguasa Penuh Makna
Jika perkara di bawah langit adalah urusan manusia, maka kezaliman yang terjadi di tempat kerja adalah dosa yang dipikul oleh mereka yang punya kuasa namun menutup mata. Korporasi tidak akan pernah sejahtera benar jika kemakmurannya dibangun di atas punggung buruh yang menderita dan terabaikan.
Alam memberi kami kekayaan, korporasi mengelolanya jadi keuntungan, tapi kami yang bekerja memeras tenaga hanya mendapat janji kosong. Kesejahteraan bukan hadiah yang harus dimohon, melainkan hak yang harus diperjuangkan sebab tanpa buruh, roda usaha mereka tak akan pernah berputar sedetik pun.
Berikut rangkaian kata-kata kritis yang mendalam, menyatukan kalimat pembuka yang Anda berikan dengan tajamnya realita ketidakadilan buruh di hadapan korporasi:
Jika permasalahan di bawah langit terjadi, maka itu adalah urusan manusia; bila manusianya yang sudah menutup mata, mematikan nurani, dan mengutamakan keuntungan semata—maka penderitaan buruh bukan lagi nasib, melainkan kejahatan yang disengaja.
Di bawah langit yang sama, korporasi mengeruk emas, nikel, dan kekayaan bumi tanah ini, namun kesejahteraan tak pernah mengalir ke tangan yang mengerjakannya. Mereka memandang buruh bukan sebagai manusia bermartabat, melainkan sekadar alat produksi: dipakai sekuat tenaga, dibayar seadanya, dibuang saat tak lagi berguna.
Kontrak kerja dipelintir agar tak ada kepastian; aturan keselamatan kerja (K3) hanya tulisan di kertas; upah tertahan di batas kelaparan sementara keuntungan perusahaan melonjak tinggi. Buruh bertaruh nyawa setiap hari di lokasi berbahaya, namun saat sakit, celaka, atau tua, tak ada perlindungan yang disediakan. Suara mereka yang berani bersuara dibungkam, serikat pekerja dihalangi, dan hak-hak sahnya ditelan dalih peraturan sepihak.
Kekayaan korporasi yang berkilauan itu dibangun di atas tulang punggung yang terkilir, keringat yang tak dihargai, dan mimpi buruh yang dipatahkan. Mereka membawa hasil bumi ke ibu kota, ke kantor-kantor mewah, namun meninggalkan masyarakat di pinggiran dalam kemiskinan, tanpa air bersih, tanpa masa depan yang layak.
Ingatlah: tidak ada kemakmuran yang suci jika dibangun di atas penderitaan sesama. Bila korporasi terus berjalan dengan hati beku, menindas demi keuntungan, maka langit pun akan menjadi saksi bahwa ketidakadilan ini takkan berdiri selamanya. Setiap tetes keringat yang dirampas, setiap hak yang diabaikan, akan menjadi tagihan yang kelak harus dijawab di hadapan keadilan ilahi dan kebenaran sejarah.
Oleh: Sahrudin Abdu
Ketua DPC FSPIM-KPBI HALTENG
BanoaTV.com





Tinggalkan Balasan