HALMAHERA SELATAN, BanoaTV — Ketua Harian Ikatan Keluarga Besar Makian Kayoa (IKB-Makayoa) Halmahera Selatan (Halsel), Ikbal Hi Mustafa, mengungkap perjalanan panjang organisasi Makayoa yang pernah menjadi wadah pemersatu keluarga besar Makian Kayoa, sebelum akhirnya mengalami fase kefakuman akibat dinamika kepemimpinan dan meninggalnya sejumlah tokoh penting.

Ikbal menjelaskan, pada masa kepemimpinan almarhum Usman Sidik, mantan Bupati Halmahera Selatan, bersama almarhum Mahdi Jasim alias Kasus sebagai sekretaris, Makayoa pernah menjadi ruang konsolidasi dan pemersatu keluarga besar Makian Kayoa.

Namun, seiring berjalannya waktu dan kepergian sejumlah tokoh yang berperan penting dalam organisasi, aktivitas Makayoa mulai mengalami kefakuman. Penetapan dirinya sebagai Ketua Harian menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan organisasi sekaligus membuka ruang pembenahan internal.

Menurut Ikbal, kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Upaya menghidupkan kembali organisasi harus dilakukan melalui mekanisme yang sah, dengan berpedoman pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).

“Memang benar organisasi Makayoa mengalami kefakuman. Karena itu, untuk memperbaikinya, kita harus melalui prosedur organisasi agar berjalan baik sesuai AD/ART,” tegasnya.

Momentum pembenahan tersebut berlanjut melalui Musyawarah Luar Biasa (Muslub) III IKB-Makayoa Halsel yang menetapkan Husein Said sebagai Ketua Umum periode 2026–2029 secara aklamasi.

Muslub III berlangsung di UMKM Milenial, Desa Tembal, Kecamatan Bacan Selatan, pada Minggu (11/10/2026).

Ikbal menyampaikan selamat atas terpilihnya Husein Said. Ia berharap kepemimpinan baru tidak hanya menjadi pergantian figur, tetapi juga mampu menghidupkan kembali roda organisasi, merangkul seluruh elemen keluarga besar Makayoa, serta memperkuat konsolidasi internal.

Ia juga menilai perbedaan pandangan dan dinamika dalam organisasi merupakan hal yang wajar dalam proses demokrasi. Kontradiksi maupun perdebatan seharusnya menjadi bagian dari pembelajaran bersama, selama disikapi secara dewasa, terbuka, dan tetap mengutamakan persatuan.

Bagi Ikbal, yang terpenting adalah seluruh dinamika tersebut tidak keluar dari koridor aturan organisasi dan tidak mengorbankan kepentingan bersama.

“Makayoa bukan milik perorangan atau kelompok tertentu. Organisasi ini milik seluruh keluarga besar Makian Kayoa. Persatuan harus dijaga dan AD/ART wajib menjadi pedoman bersama,” tegasnya.

Kini, kepemimpinan Husein Said menghadapi tantangan untuk menjadikan Muslub III sebagai titik balik kebangkitan IKB-Makayoa Halsel. Tantangannya bukan sekadar menjalankan kepemimpinan baru, melainkan membangun kembali organisasi yang aktif, solid, inklusif, dan berjalan sesuai aturan.

Dengan semangat persatuan dan komitmen terhadap AD/ART, IKB-Makayoa diharapkan kembali menjadi wadah pemersatu yang mampu menaungi seluruh keluarga besar Makian Kayoa di Halmahera Selatan.

 

Red, BanoaTV