BanoaTV, HALMAHERA SELATAN – Perubahan warna air laut menjadi hijau pekat bercampur noda kecokelatan yang terjadi di sejumlah perairan Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, diduga merupakan fenomena alam berupa blooming fitoplankton atau ledakan populasi alga. Fenomena tersebut dinilai tidak berkaitan dengan aktivitas industri pertambangan yang beroperasi di wilayah Obi.
Perubahan warna air pertama kali terlihat di pesisir Desa Jikotamo, kawasan Dermaga Jojame, dan Desa Anggai, Kecamatan Obi. Dalam beberapa hari berikutnya, fenomena tersebut meluas hingga ke perairan Desa Madopolo, Kecamatan Obi Utara. Dampaknya, sejumlah ikan budidaya milik warga dilaporkan mati akibat menurunnya kadar oksigen terlarut di dalam air.
Guru Besar Manajemen Kesehatan Ikan Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Prof. Muhammad Aris, menjelaskan bahwa berdasarkan analisis ilmiah dan pemetaan spasial, perubahan warna air laut tersebut dipicu oleh kondisi iklim pada musim kemarau yang disertai peningkatan suhu perairan.
“Jika perubahan warna air ini dikaitkan langsung dengan aktivitas industri, secara lokasi sama sekali tidak tepat. Perubahan warna air dominan terjadi di wilayah utara, sedangkan kawasan industri berada di bagian selatan dengan arah perairan yang berbeda,” ujar Prof. Aris.
Menurutnya, apabila sumber pencemaran berasal dari aktivitas industri, maka dampaknya akan terkonsentrasi di sekitar lokasi industri dan mengikuti pola arus laut, bukan menyebar seperti yang terjadi saat ini.
Prof. Aris menjelaskan bahwa musim kemarau yang diperkuat pengaruh El Niño menyebabkan suhu permukaan laut meningkat hingga sekitar dua derajat Celsius. Kondisi tersebut memicu pertumbuhan fitoplankton secara sangat cepat atau algal bloom. Ketika populasi alga mencapai puncaknya, organisme tersebut akan mati secara massal.
Proses kematian dan pembusukan alga dalam jumlah besar itulah yang menyebabkan perubahan warna air laut sekaligus menurunkan kualitas perairan.
“Saat plankton mati dalam jumlah besar, kandungan bahan organik di dalam air meningkat drastis. Proses penguraian oleh bakteri menghabiskan oksigen terlarut, sementara pada saat yang sama menghasilkan gas beracun seperti amonia dan hidrogen sulfida,” jelasnya.
Akibat berkurangnya kadar oksigen dan terbentuknya gas-gas beracun tersebut, air laut menjadi berwarna hijau pekat, mengeluarkan bau menyengat, dan menyebabkan ikan maupun biota perairan mengalami kematian.
Prof. Aris juga mengungkapkan bahwa dirinya telah melakukan pengamatan langsung selama sekitar lima hari di perairan Obi Selatan. Dari hasil observasi tersebut, tidak ditemukan indikasi pencemaran maupun penurunan parameter kualitas air yang mengarah pada limbah industri.
Ia menegaskan bahwa karakteristik pencemaran logam berat sangat berbeda dengan fenomena blooming fitoplankton.
“Jika terjadi pencemaran logam berat akibat aktivitas industri, logam tersebut cenderung mengendap di dasar perairan dan tidak menyebabkan air laut berubah menjadi hijau pekat secara menyeluruh seperti yang terjadi saat ini. Karena itu, fenomena ini merupakan bagian dari siklus alam,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Maluku Utara, Kadri Laetje, mengatakan pihaknya akan segera menurunkan tim dari UPTD Balai Pengujian Mutu Hasil Perikanan (BPMHP) untuk mengambil sampel air laut di sejumlah titik yang mengalami perubahan warna.
“Kami akan segera menerjunkan tim untuk mengambil sampel air laut. Langkah ini dilakukan guna mengetahui secara pasti parameter kualitas air dan memastikan penyebab fenomena yang terjadi berdasarkan hasil uji laboratorium,” kata Kadri.
Ia menambahkan, pengujian laboratorium diperlukan agar pemerintah memiliki dasar ilmiah yang objektif dalam memberikan penjelasan kepada masyarakat sekaligus menentukan langkah mitigasi yang tepat.
“Hasil laboratorium nantinya diharapkan dapat menjawab penyebab perubahan warna air laut secara objektif berdasarkan data ilmiah, sehingga menjadi dasar bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan penanganan di lapangan,” pungkasnya.
Red, BanoaTV





Tinggalkan Balasan