Oleh : Nahriria Basir
Mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Khairun

Menghidupkan Kembali ‘Hapolas’: Antidot Individualisme dari Desa Paisumbaos.

Di era di mana segala sesuatu diukur dengan konversi mata uang, menyaksikan sebuah komunitas bergerak serentak tanpa selembar kuitansi adalah sebuah kemewahan sosial. Di Desa Paisumbaos, Halmahera Selatan, kemewahan itu bernama Hapolas, sebuah tradisi gotong royong masyarakat Suku Makian yang biasanya memuncak saat mendirikan struktur hunian atau fasilitas publik.

Tradisi ini bukan sekadar ritual warisan masa lalu; ia adalah kritik tajam sekaligus antidot bagi merayapnya sifat individualisme modern.

Dari kacamata sosial, Hapolas bertindak sebagai perekat struktural (social glue). Suku Makian dikenal memiliki ikatan kekerabatan yang sosiologisnya sangat resilien, sebagian dibentuk oleh sejarah migrasi dan adaptasi pasca-bencana geologis di masa lalu.

Ketika seseorang hendak membangun rumah, ia tidak perlu memikirkan berapa biaya upah buruh bangunan yang mencekik. Cukup dengan mengabarkan kerabat dan tetangga, puluhan tangan akan datang membawa perkakas. Di sini, modal sosial (social capital) bekerja dalam bentuknya yang paling murni: kepercayaan (trust) dan resiprositas (timbal balik). Ada kontrak sosial tak tertulis bahwa “hari ini saya membantumu, esok atau lusa kamu dan yang lain akan membantuku.”

Namun, keliru jika kita menganggap Hapolas hanyalah aktivitas sentimental tanpa nilai ekonomi. Secara teoritis, Hapolas adalah instrumen efisiensi biaya transaksi (transaction cost efficiency) yang sangat efektif dalam ekonomi pembangunan perdesaan. Dengan meniadakan komponen upah tenaga kerja (labor cost) dalam struktur pembiayaan pembangunan fisik, sebuah keluarga di Desa Paisumbaos dapat menghemat pengeluaran antara 30% hingga 40% dari total estimasi biaya konstruksi.

Perspektif Ekonomi Makro Lokal:
Dana yang seharusnya habis untuk upah buruh tukang dapat dialokasikan kembali (reallocated) oleh rumah tangga untuk sektor produktif lainnya, seperti pemenuhan gizi anak, biaya pendidikan pendidikan tinggi, atau modal usaha perkebunan (seperti cengkih dan pala).

Tentu saja, tantangan Hapolas ke depan tidaklah mudah. Komersialisasi ruang hidup dan penetrasi ekonomi uang berisiko menggeser nilai resiprositas ini menjadi hubungan transaksional yang kaku. Jika masyarakat Paisumbaos mulai berpikir, “Berapa rupiah yang saya hasilkan jika saya membantu dia?” maka runtuhlah pondasi Hapolas.

Oleh karena itu, menjaga Hapolas tetap hidup di Paisumbaos bukan sekadar romantisasi budaya. Ini adalah strategi bertahan hidup (survival strategy) ekonomi dan sosial. Pemerintah daerah Halmahera Selatan sepatutnya melihat tradisi seperti Hapolas sebagai modal pembangunan daerah yang harus diintegrasikan, bukan dianggap sebagai masa lalu yang tertinggal oleh modernisasi.

 

Red: BanoaTV