HALMAHERA SELATAN, BanoaTV – ‎Tambang emas di Desa Kusubibi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, menjadi tumpuan hidup bagi banyak warga. Dari aktivitas tambang inilah, kebutuhan rumah tangga hingga biaya pendidikan anak-anak mereka dipenuhi, meski harus dibayar dengan keringat dan tenaga yang tidak sedikit.

‎Pagi itu, sekitar pukul 06.00 WIT, suasana desa mulai hidup. Kelompok-kelompok kecil berisi enam hingga sepuluh orang tampak bergegas berjalan kaki menuju lokasi tambang emas. Jarak yang harus ditempuh tidaklah dekat, sekitar dua kilometer dari permukiman warga, melewati jalan di tengah hutan dengan kondisi yang cukup menantang.

‎Dengan peralatan seadanya dan hanya berbekal satu botol air minum, mereka melangkah mantap. Warga setempat menyebut mereka sebagai “orang kijang”, yakni pekerja yang bertugas memikul material emas dari lubang galian menuju lokasi tromol, tempat material tersebut diproses hingga menjadi emas.

‎Material yang dipikul dimasukkan ke dalam karung dengan berat bervariasi, mulai dari 10 kilogram hingga lebih dari 15 kilogram. Setiap karung dihargai Rp120.000. Meski terasa berat dan melelahkan, pekerjaan ini tetap dijalani demi memenuhi kebutuhan hidup.

‎“Ini memang pekerjaan kita sebagai orang kijang. Kita tidak kerja langsung di lubang tambang, tapi tugas kita memikul material dari lokasi galian ke tromol supaya bisa dibayar,” ujar Pardi, salah satu pekerja kijang, saat ditemui di tempat peristirahatan para pemikul material. Jumat, (13/02/2026).

‎Menurut Pardi, pekerjaan tersebut memang menguras tenaga, terlebih kondisi jalan yang sulit dan jarak yang jauh. Namun bagi mereka yang memiliki tanggung jawab keluarga, menjadi orang kijang adalah solusi tercepat untuk mendapatkan uang.

‎“Kerja kijang itu berat, tapi mau bagaimana lagi. Dapur harus tetap berasap dan anak-anak harus sekolah dan kita beberapa hari lagi akan tiba Ramadhan,” katanya.

‎Dalam sehari, seorang kijang bisa bolak-balik dua hingga tiga kali, tergantung kondisi fisik masing-masing. Jika mampu mengangkut material hingga tiga atau empat kali, penghasilan yang diperoleh bisa mencapai Rp350.000 hingga Rp400.000 per hari. “Kalau kuat ambil tiga kali sehari, berarti tiga kali seratus dua puluh ribu. Itu sudah lumayan untuk satu hari,” ungkap Pardi

‎Sementara itu, sistem kerja di tambang emas Kusubibi terbagi ke dalam beberapa kelompok. Pertama, kelompok penambang yang bekerja langsung di dalam lubang galian untuk mengambil material emas secara manual. Kedua, kelompok orang kijang yang bertugas mengeluarkan dan memikul material hasil galian. Ketiga, kelompok pekerja tromol yang mengolah material tanah menjadi emas.

‎Para pekerja teromol memproses material dengan cara memasukkannya ke dalam mesin tromol untuk diputar. Setelah itu, material direndam, diberi air perak, hingga melalui proses pembakaran agar menghasilkan emas siap jual.

‎Berbeda dengan orang kijang yang dibayar per karung, para penambang di lubang galian baru menerima hasil setelah seluruh material diolah dan emas dijual kepada pembeli. Hasil penjualan tersebut kemudian dibagi secara kongsi sesuai kesepakatan kelompok.

‎Di balik kilau emas Kusubibi, tersimpan cerita perjuangan para pekerja tambang rakyat. Bagi mereka, memikul karung-karung tanah bukan sekadar pekerjaan, melainkan cra bertahan hidup dan menjaga harapan agar masa depan keluarga tetap menyala.

 

Penulis: Adhy Batura 

‎Editor: Banoatv.com