Seruan HMI Turunkan Presiden Prabowo, Jeritan Rakyat dari dampak kenaikan harga BBM

Oleh: Askun Usman

Kabid PTKP HMI Cabang Bacan.

BanoaTV, Halsel – Gelombang keresahan sosial kembali memuncak di berbagai pelosok negeri. Kebijakan nasional yang dinilai tidak berpihak pada rakyat kecil memicu reaksi keras dari kelompok intelektual organik. Salah satu respons paling lantang datang dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan. Melalui pernyataan sikapnya, HMI secara tegas menyuarakan penolakan terhadap kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) serta melayangkan seruan radikal: “Turunkan Presiden Prabowo.”

Seruan ini bukan sekadar retorika politik di ruang hampa, melainkan sebuah manifestasi dari akumulasi kekecewaan mendalam atas kondisi sosial-ekonomi yang kian mencekik leher rakyat. Kebijakan Nasional yang “Buta” Realitas; Kepala Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan, dan Kepemudaan (Kabid PTKP) HMI Cabang Bacan, Askun Usman, angkat bicara mengenai carut-marut kebijakan nasional ini. Menurut Askun, keputusan pemerintah menaikkan harga BBM mencerminkan ketidakpedulian penguasa terhadap jeritan masyarakat di tingkat akar rumput (grassroots).

Pemerintah seolah hidup di dalam menara gading, sementara rakyat di daerah, khususnya di wilayah kepulauan seperti Maluku Utara, harus terseok-seok menghadapi efek domino dari kenaikan harga BBM ini, apakah ini dampak dari kata presiden prabowo bahwa dolar tidak ada pengaruhnya di pelosok desa.? Ataukah dampak peperangan antara America dan iran sehingga kebijakan itu ada.? ” ujar Askun dalam keterangannya.

Askun menegaskan bahwa BBM adalah urat nadi perekonomian regional. dampak instannya adalah lonjakan harga bahan pokok dan biaya transportasi laut maupun darat. Bagi masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan dan petani, kebijakan ini adalah hantaman maut bagi kelangsungan hidup mereka.

Kemudian Dampak Sosial Ekonomi dan Jeritan di Akar Rumput, Secara sosiologis dan ekonomi, dampak dari kebijakan pusat ini melahirkan krisis berlapis-lapis di daerah. Penyusutan Pendapatan Riil, Nelayan kesulitan melaut karena biaya operasional BBM membengkak, sementara harga jual tangkapan tidak sebanding.

Lalu Inflasi Bahan Pokok, Ketergantungan pasokan barang dari luar daerah membuat harga pangan meroket akibat mahalnya ongkos logistik dan ancaman putus sekolah, Beban ekonomi keluarga yang meningkat memaksa prioritas bergeser dari pendidikan ke sekadar bertahan hidup sehari-hari.

“Hari ini, kita tidak hanya melihat angka inflasi di atas kertas statistik. Kita melihat wajah-wajah lesu para orang tua di pasar, petani dan nelayan kecil yang kehilangan harapan, kita mendengar keluhan para sopir angkot dan motor kayu. Ini adalah jeritan nyata rakyat yang dikorbankan demi efisiensi anggaran negara yang salah sasaran,” lanjut Askun dengan nada retoris yang tajam.

“Turunkan Presiden”? Bagi HMI Cabang Bacan, tuntutan menurunkan Presiden Prabowo bukan merupakan tindakan inkonsitusional yang tanpa dasar, melainkan bentuk mosi tidak percaya tertinggi. Ketika seorang pemimpin dinilai gagal menjaga stabilitas isi dompet rakyatnya dan justru membebani mereka dengan kebijakan fiskal yang opresif, maka legitimasi kepemimpinannya patut dipertanyakan.

Seruan “Turunkan Presiden Prabowo” yang digelorakan oleh HMI Bacan menjadi sebuah peringatan keras (warning shot) bahwa kesabaran rakyat memiliki batas. Mahasiswa, sebagai penyambung lidah masyarakat, menolak untuk diam dan memilih berdiri di garis depan perlawanan. Kami ingin tegaskan HMI lahir atas tiga kondisi, satu di antaranya adalah kondisi kebangsaan sebagai spirit sejarah yang akan kami ulangi kembali di masa kepemimpinan presiden prabowo hari. Tutupnya.

sikap tegas yang dipelopori oleh Kabid PTKP HMI Cabang Bacan ini adalah bukti bahwa nalar kritis pemuda di daerah belum mati. Di saat elite politik di pusat sibuk bersafari dan mengonsolidasikan kekuasaan, di sudut Maluku Utara, rahim HMI kembali melahirkan perlawanan.

Menolak kenaikan BBM dan menuntut reformasi kepemimpinan nasional adalah satu paket perjuangan moral. Jika pemerintah pusat terus menutup telinga dari jeritan rakyat dari Sabang sampai Merauke, termasuk dari Bumi Jazirah al-mulk. maka jangan salahkan jika gelombang perlawanan ini akan menggulung kekuasaan yang dinilai abai tersebut. Perjuangan belum usai, dan hijau-hitam telah memilih jalannya bersama rakyat. “YAKUSA.”!!!

 

Red, BanoaTV