BanoaTV – Setiap perayaan Milad Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bukan sekadar seremoni mengenang usia organisasi, melainkan panggilan sejarah untuk melakukan refleksi mendalam. HMI lahir dari rahim pergulatan zaman, membawa misi keislaman dan keindonesiaan dalam satu tarikan napas. Namun, di usia yang kian matang, pertanyaan fundamental terus menggema: masihkah HMI setia pada khittah perjuangannya atau telah terjebak dalam romantisme masa lalu?
Persimpangan zaman yang dihadapi HMI hari ini jauh lebih kompleks dibanding era pendirinya. Globalisasi, disrupsi teknologi, kapitalisme digital, dan krisis demokrasi menghadirkan tantangan baru bagi gerakan mahasiswa. Jika dulu HMI berhadapan dengan kolonialisme dan otoritarianisme, kini ia berhadapan dengan apatisme kader, pragmatisme politik, dan dekadensi intelektual.
Milad HMI seharusnya tidak dipahami sebagai perayaan usia semata, melainkan sebagai momentum otokritik kolektif. Otokritik adalah tradisi intelektual yang menandai kedewasaan organisasi. Tanpa keberanian mengkritik diri sendiri, HMI hanya akan menjadi monumen sejarah yang beku, bukan gerakan yang hidup dan relevan.
Pertanyaan yang harus dijawab HMI hari ini adalah: sejauh mana kaderisasi masih melahirkan insan cita yang berintegritas, berilmu, dan beramal? Kaderisasi sering kali terjebak dalam rutinitas formalistik, kehilangan ruh ideologis dan kedalaman intelektual. Jika kaderisasi hanya melahirkan aktivis seremonial, maka HMI sedang menuju krisis eksistensial.
Di sisi lain, HMI juga dihadapkan pada persoalan politisasi organisasi. Keterlibatan alumni dan kader dalam politik praktis sering kali menimbulkan ambiguitas antara idealisme gerakan dan kepentingan kekuasaan. Milad harus menjadi ruang refleksi: apakah HMI masih menjadi kekuatan moral atau telah menjadi instrumen politik elite?
Otokritik juga harus diarahkan pada budaya intelektual HMI. Tradisi diskusi, kajian ilmiah, dan produksi gagasan kritis tampak semakin tergerus oleh aktivitas seremonial dan euforia media sosial. Padahal, kekuatan utama HMI sejak awal adalah tradisi intelektual yang melahirkan pemikir, negarawan, dan cendekiawan Muslim.
Persimpangan zaman juga menuntut HMI untuk merumuskan ulang orientasi gerakannya. Di tengah krisis lingkungan, ketimpangan sosial, dan problem kebangsaan, HMI tidak boleh hanya sibuk dengan dinamika internal. Ia harus hadir sebagai kekuatan transformasi sosial yang berpihak pada keadilan dan kemanusiaan.
Milad sebagai momentum otokritik berarti berani mengakui kegagalan. HMI harus jujur bahwa tidak semua kadernya menjadi agen perubahan, tidak semua struktur berjalan efektif, dan tidak semua agenda gerakan menyentuh akar persoalan umat. Kejujuran ini bukan untuk merendahkan HMI, tetapi untuk menyelamatkannya dari stagnasi.
Otokritik juga berarti merekonstruksi paradigma kaderisasi. HMI perlu melahirkan kader intelektual profetik, bukan hanya aktivis organisatoris. Kader yang mampu membaca realitas sosial dengan pisau analisis ilmiah dan menjawabnya dengan etika keislaman yang membebaskan.
Persimpangan zaman juga memaksa HMI berhadapan dengan krisis identitas generasi muda. Generasi digital memiliki pola pikir, gaya komunikasi, dan orientasi yang berbeda. Jika HMI gagal beradaptasi tanpa kehilangan prinsip, maka ia akan ditinggalkan oleh generasi yang seharusnya menjadi basis perjuangannya.
Milad HMI harus menjadi ruang dialektika antara tradisi dan inovasi. Tradisi perjuangan tidak boleh dibekukan menjadi dogma, dan inovasi tidak boleh tercerabut dari nilai dasar. Dialektika inilah yang akan menjaga HMI tetap relevan sekaligus berakar.
Otokritik juga menyentuh soal kepemimpinan. Kepemimpinan HMI harus melampaui logika struktural menuju kepemimpinan moral dan intelektual. Pemimpin HMI bukan hanya administrator organisasi, tetapi visioner yang mampu menggerakkan kesadaran kolektif kader.
Di tengah fragmentasi sosial dan polarisasi politik, HMI memiliki tanggung jawab untuk menjadi perekat kebangsaan. Milad harus menjadi refleksi apakah HMI masih menjadi ruang dialog inklusif atau justru terjebak dalam sekat-sekat ideologis yang sempit.
Persimpangan zaman juga menguji keberpihakan HMI pada kaum marginal. Sejauh mana HMI hadir di tengah rakyat miskin, masyarakat adat, dan kelompok tertindas? Jika HMI hanya hadir di ruang-ruang elite akademik tanpa praksis sosial, maka idealisme keislaman dan keindonesiaan kehilangan makna praksisnya.
Otokritik menuntut keberanian untuk berubah. Perubahan bukan berarti mengkhianati sejarah, tetapi menghidupkan kembali spirit sejarah dalam konteks baru. HMI harus berani melakukan reformasi internal, baik dalam struktur, metode kaderisasi, maupun orientasi gerakan.
Milad juga harus menjadi momentum rekonsolidasi kader lintas generasi. Jurang antara senior dan junior sering kali melahirkan disorientasi gerakan. HMI membutuhkan dialog antargenerasi untuk mentransformasikan pengalaman, nilai, dan visi perjuangan secara berkelanjutan.
Persimpangan zaman juga menuntut HMI untuk memperkuat basis keilmuan. Produksi jurnal, buku, riset, dan policy paper harus menjadi bagian integral dari gerakan. Tanpa basis pengetahuan yang kuat, HMI akan kehilangan daya tawar dalam diskursus publik.
Otokritik tidak boleh berhenti pada tataran wacana. Ia harus diterjemahkan menjadi agenda strategis dan aksi nyata. Milad harus melahirkan resolusi gerakan, bukan hanya nostalgia sejarah dan retorika simbolik.
HMI di persimpangan zaman berarti HMI berada pada pilihan: menjadi organisasi yang hidup dan progresif atau menjadi organisasi yang besar secara simbolik tetapi kosong secara substansi. Pilihan ini ditentukan oleh keberanian kader untuk berpikir kritis, bertindak reflektif, dan bergerak transformatif.
Akhirnya, Milad HMI adalah panggilan sejarah bagi setiap kader untuk kembali pada ruh perjuangan. Otokritik bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda kedewasaan gerakan. Dengan otokritik yang jujur dan transformasi yang radikal, HMI dapat kembali menjadi lokomotif intelektual dan moral umat serta bangsa di tengah pusaran zaman.
Oleh : Abdul Mujais M.Nur
Kabid KPP Kom. Pertanian UNSAN Cabang Bacan.






Tinggalkan Balasan