Ada pejabat yang begitu sigap memotong pita peresmian, tersenyum lebar di depan kamera saat ada pencapaian, tapi mendadak menghilang begitu ada jurnalis datang membawa pertanyaan. Menghadapi wartawan, wajahnya tegang seperti melihat tagihan listrik—padahal yang dibawa hanya mikrofon, bukan surat tuntutan.
Pejabat seperti ini sering menganggap pers sebagai musuh. Padahal, kalau tidak punya apa-apa untuk disembunyikan, mengapa harus takut? Pers itu bukan tukang fitnah keliling, tapi pengantar kabar. Yang panik biasanya bukan karena pertanyaannya sulit, tapi karena jawabannya bisa membuka rahasia yang selama ini dikunci rapat.
Anehnya, mereka suka bicara soal “transparansi” di pidato, tapi transparansi itu hilang entah ke mana ketika wartawan mulai mengajukan pertanyaan kritis. Lalu, kalau tidak mau diperiksa, tidak mau diwawancara, tidak mau dikritik—untuk apa jadi pejabat? Lebih cocok jadi aktor figuran di panggung politik, yang hanya tersenyum ketika disorot kamera, lalu menghilang saat lampu mati.
Menghindari pers ibarat mematikan lampu di tengah pemeriksaan—mungkin berharap rakyat akan berhenti mencari kebenaran. Sayangnya, publik sekarang tidak sebodoh itu. Kamera bisa mati, tapi rasa penasaran rakyat tidak pernah padam.
Pejabat yang benar-benar kuat tidak takut pada pertanyaan sulit. Hanya mereka yang rapuh yang berusaha menutup telinga, menutup pintu, dan menutup mulut. Dan semakin mereka menutup diri, semakin jelas terlihat bahwa yang mereka takutkan bukan jurnalis, tapi kebenaran itu sendiri. (*)




Tinggalkan Balasan