JAILOLO, BanoaTV — Penolakan terhadap proyek panas bumi (Geothermal) di kawasan Pabos, Kabupaten Halmahera Barat, semakin menguat. Tidak hanya berkumandang di ruang publik, perlawanan ini kini merambah ruang-ruang pendidikan.
Mahasiswa asal Payo, Bobo, dan Saria turun langsung melakukan sosialisasi di sekolah-sekolah sebagai langkah edukasi dan pembentukan kesadaran generasi muda untuk mencintai dan melindungi lingkungan dari ancaman eksploitasi.
Riwan Basir, mahasiswa sekaligus penggerak utama aksi penolakan, mengungkapkan bahwa sepanjang 2024 ia bersama rekan-rekannya telah dua kali menggelar sosialisasi di Madrasah Aliyah Muhammadiyah Pabos dan MA Alhairat Pabos
Dlam sosialisasi tersebut, mahasiswa menekankan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya kewajiban sosial, tetapi juga bagian dari iman, serta memperingatkan bahaya laten jika proyek geothermal yang digarap PT GEO Dipa Energi dan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) terus dipaksakan.
“Kami datang langsung ke MA Muhammadiyah Pabos dan MA Alhairat Pabos untuk menyampaikan pesan kepada adik-adik tanah tempat mereka berpijak sedang terancam. Geothermal bukan hanya soal listrik, ini menyangkut nyawa warga, kelestarian budaya, dan masa depan kampung kami,” tegas Riwan.
Menurutnya, memilih institusi pendidikan Muhammadiyah sebagai wadah sosialisasi bukan tanpa alasan. Lembaga ini dipandang memiliki nilai moral dan prinsip keislaman yang sejalan dengan semangat menjaga amanah bumi. Riwan menilai keterlibatan pelajar Muhammadiyah sangat krusial karena mereka adalah generasi penerus yang kelak akan menjadi garda terdepan dalam melindungi tanah leluhur.
Tak hanya pada pelajar, mahasiswa Pabos juga menyerukan dukungan kepada Muhammadiyah di semua tingkatan mulai dari Cabang Jailolo, Wilayah Maluku Utara, hingga Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Mereka berharap organisasi besar ini bersuara lantang mendukung perjuangan rakyat Pabos.
“Kami sebagai kader Muhammadiyah mendesak agar organisasi ini berdiri bersama rakyat. Muhammadiyah punya sejarah panjang dalam memperjuangkan keadilan sosial dan lingkungan. Warga Muhammadiyah di Payo, Bobo, dan Saria layak diperjuangkan,” tegas Riwan.
Riwan menambahkan, dukungan Muhammadiyah Pusat akan menjadi kekuatan moral sekaligus politik yang mampu memperkuat barisan perlawanan warga menghadapi tekanan modal besar dan proyek-proyek berskala nasional yang kerap mengorbankan kepentingan masyarakat lokal.
Proyek geothermal Jailolo sendiri direncanakan membentang di lahan seluas 13.580 hektar, meliputi Kecamatan Jailolo dan Sahu, bahkan mencaplok kawasan konservasi Telaga Rano. Proyek ini digadang mampu menghasilkan listrik hingga 75 MW. Namun, mahasiswa dan warga menilai kajian dampak lingkungan, sosial-budaya, maupun ekonomi masih minim, tidak transparan, dan cenderung mengabaikan suara rakyat.
Sejarah eksplorasi panas bumi di wilayah ini telah dimulai sejak era 1960-an oleh ITB, sempat dikelola PT Star Energy, dan kini dilanjutkan oleh PT SMI serta GEO Dipa Energi dengan pendanaan Bank Dunia melalui program Geothermal Energy Upstream Development.
Kendati demikian, Protes dan penolakan terus menguat. Dari Pabos, suara generasi muda, pelajar, dan mahasiswa menyatu dalam satu seruan keras: “Save Pabos! Tolak Geothermal! Jaga Tanah Keramat!”
Penulis:Wan |Editor:Redaksi BanoaTV




Tinggalkan Balasan