BACAN, BanoaTV – Banjir besar yang melanda Kota Labuha dan sekitarnya pada Sabtu malam, 22 Juni 2025, kini memunculkan kemarahan publik. Sejumlah tokoh menilai bencana itu bukan sekadar musibah alam, melainkan hasil dari kelalaian manusia khususnya dalam proyek normalisasi Sungai Inggoi yang dikerjakan tanpa perencanaan matang dan diduga mengabaikan analisis dampak lingkungan (Amdal).

Proyek normalisasi yang dilaksanakan di Desa Amasing Kota Barat, Kecamatan Bacan, oleh PT Labuha Indah, dinilai menjadi pemicu utama meluapnya air yang merendam sedikitnya 2.253 rumah dan berdampak pad ribuan jiwa di wilayah Labuha, Amasing Kota, Kota Utara, dan sekitarnya.

Ketua KNPI Halmahera Selatan, Hastomo Bakri, SH, dengan nada tegas menyebut proyek tersebut dijalankan secara “ugal-ugalan” dan tanpa memperhitungkan risiko bencana secara komprehensif.

“Ini akibat kelalaian. Proyek dikerjakan tanpa mengutamakan Amdal, makanya dampaknya sebesar ini. Selama ini Labuha tidak pernah dilanda banjir separah ini,” tegas Hastomo yang akrab disapa Bung Tomo.

Ia menuntut pertanggungjawaban dari pihak rekanan dan Dinas Lingkungan Hidup Halmahera Selatan, yang dinilainya lalai dalam pengawasan dan pelaksanaan proyek.

“Kasus ini mencerminkan lemahnya pengawasan terhadap proyek-proyek yang menyangkut keselamatan publik. Penegakan tanggung jawab mutlak diperlukan untuk mencegah tragedi serupa terulang di masa depan,”tandasnya.

Selain itu, Rasa kecewa dan amarah datang dari Tokoh masyarakat dan eks anggota DPRD tiga periode, Abdurrahman Hamzah, S.HI, menyerukan mobilisasi warga untuk turun ke jalan menuntut keadilan.

Foto: Genangan Air Banjir yang meredam ruas jalan raya Kota Labuha pada Sabtu 22 Juni 2025 pukul 11:30 Wit (Doc:BN)

“Ini bukan bencana murni, ini kelalaian. Air meluap karena proyek menutup saluran air. Ribuan warga jadi korban. Kami akan tuntut ganti rugi,” tegas Man Hamzah dalam pernyataan resminya, Minggu (22/6/2025).

Hamzah juga menuding proyek normalisasi justru memperparah banjir karena saluran drainase ditutup dan tanggul tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

“Mereka keruk sungai, timbun parit, lalu air cri jalan sendiri ke rumah kami. Ini akibat kerja amburadul!”cetus Man Hamza

Akibat banjir tesebut, warga kehilangan barang-barang penting seperti televisi, kulkas, motor, dan perabotan lainnya yang hancur diterjang air.

Sekedar diketahui, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, merilis data terbaru dampak banjir yang melanda sejumlah wilayah di Halsel.

Hingga Kamis, 26 Juni 2025, tercatat sebanyak 3.869 kepala keluarga (KK) atau 15.056 jiwa terdampak banjir. Sementara jumlah rumah yang terendam air mencapai 2.253 unit.

Hingga berita ini diturunkan, Dinas terkait dan pihak Kontraktor Pelaksana masih dalam upaya dikonfirmasi wartawan. (Red)