BanoaTV – Pagi yang indah itu, Saat jarum jam menunjukkan pukul 05. 00 WIT, suara adzan terdengar dari semua mesjid di desa yang tenang, menyebar di awan pagi yang sangat lembap dengan embun. Panggilan itu tidak hanya menyuruh manusia untuk mendekatkan diri kepada Pencipta, tetapi juga sebagai instrumen untuk membangunkan kesunyian yang telah lama tertidur nyaman dalam rumah kecil ini, sebuah tempat tinggal yang sederhana, namun dipenuhi dengan kasih.
Aku masih tertidur dalam lelap malamku. Namun di luar, dunia sudah mulai melakukan pergerakan secara perlahan. Suara langkah kaki terdengar pelan dan penuh irama, seakan berdansa di atas lantai rumah. Ada sebuah ruang tersembunyi di balik gerakan itu. Piring bersentuhan dengan sendok, gelas berbisik di meja, pintu lemari mengeluarkan suara napas lembut, semua itu membentuk suasana pagi yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang biasa bangun sebelum mentari muncul memancarkan cahayanya.
Di balik suara-suara itu, terdapat seorang sosok pria. Badannya mungkin tampak sanggat lemah, rambutnya mulai beruban, mukanya Mulai berkeriput, tetapi semangatnya tetap membara. Dengan satu hembusan napas yang panjang, ia melangkah keluar dari rumah menuju bibir pantai, meninggalkan kehangatan yang masih tersimpan. Tujuan utamanya dalam perjalan itu hanyalah satu: laut sebagai titik dari tujuan kepergian itu.
Laut adalah bagian dari kehidupannya, menaruh segenap harap pada setiap hantaman gelombang, Ia memberikan penghidupan, tetapi juga menyimpan amarah. Keindahannya bisa dimanipulasi, sementara kedalamannya menyimpan bahaya yang kejam. Laut tidak pernah berjanji untuk selalu memberikan kesetiaan pada manusia, tetapi pria itu tetap datang setiap pagi dan kembali sore hari sampai malam hari, membawa harapan yang ia gantungkan pada setiap alunan gelombang laut.
Terdapat banyak pilihan yang bisa menjauhkannya dari resiko. Banyak jalur yang bisa jadi lebih aman untuk diambil. Namun ia memilih tetap menghadapi ketidakjelasan, melawan semua kemungkinan yang mungkin merenggut nyawanya. Keberanian itu bukan berasal dari ketidaktahuan, tetapi dari cinta yang tidak mengenal jalan untuk kembali.
Aku perna bertanya padanya, apakah kamu tidak lelah dengan perjalan panjang yang kamu geluti selama ini? Ia pun menjawab dengan nada yang tenang tanpa tekanan batin,
“saya dan laut adalah sepasang penghidupan yang tidak bisa di pisahkan, kami adalah komponen yang saling melengkapi dari berbagai sisi”.
Ia menjadikan laut sebagai sumber rezeki. Namun dibalik itu, ia sadar ada acaman yang menanti dirinya tanpa mengenal ruang dan waktu, ia sadar akan resiko-resiko yang nnti di Hadapi. Namun kasi sayang dan ketulusan hati ia dapat bertahan dan tetap semangat atas pekerjaannya.
Sejak aku berusia 9-17 tahun, aku bersaksi atas manis dan pahit hidup berdampingan dengan laut sebab, aku Melihat lelaki itu menukar ketakutan dengan keteguhan, menantang lautan yang misterius dengan tangan kosong dan doa yang selalu menyapa nadi nadi seorang pelaut. Ia tidak berlayar hanya untuk dirinya sendiri. Ia berlayar karena percaya bahwa suatu saat, masa depan keluargaku akan berlabuh dengan aman di dermaga kebahagiaan, dia percaya bahwa laut menjadi jawaban atas masa depan anak-anaknya.
Waktu pun berlalu aku pun berusia dua puluh dua tahun, wajah lelaki itu pun mulai menua dimakan jaman,dinggin dan panas, dan segalah bentuk tekanan yang ada di laut.
Dari perjalanan panjang ini, aku bermimpi suatu saat nanti, keringat dan usaha yang tidak mengenal luka dari sosok lelaki kuat itu, harapan yang dipupus dari nadi nadi gelombang menjadi bukti cinta yang paling nyata, dalam perjalan ini adalah bukti yang tidak akan menjadi sejarah untuk dilupakan dalam hidupku.
Dan lelaki itu,
adalah ayahku.
Penulis: M. Eko Duhumona
Pegiat: Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara Ummu




Tinggalkan Balasan