HALMAHERA SELATAN, BanoaTV – Suasana penuh kebahagiaan menyelimuti Desa Busua, Kecamatan Kayoa Barat, Halmahera Selatan, saat tradisi adat saro-saro digelar dalam prosesi pernikahan pasangan Yuni dan Judda, Sabtu (28/03/2026).

Tak hanya berlangsung meriah, momen tersebut juga mencatatkan sejarah baru sebagai perolehan saro-saro tertinggi di Maluku Utara.

Tradisi saro-saro sendiri merupakan ritual adat pernikahan khas masyarakat Maluku Utara, khususnya suku Makian dan Ternate. Dalam prosesi ini, para tamu undangan secara langsung memberikan uang tunai kepada kedua mempelai sebagai bentuk doa restu dan dukungan untuk kehidupan rumah tangga yang akan dijalani.

Sejak pukul 11.00 WIT, satu per satu kelompok tamu terlihat menghampiri pasangan pengantin. Mereka menyerahkan amplop maupun uang tunai secara langsung, diiringi suasana hangat, canda, dan kegembiraan yang menyatukan seluruh hadirin.

Tidak hanya uang tunai, keduanya juga mendapatkan satu unit honda Scoopy. Selain itu, sejumlah tamu juga memberikan perlengkapan rumah tangga seperti bokor, penanak nasi, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Semua pemberian tersebut menjadi simbol harapan akan kehidupan rumah tangga yang sejahtera, harmonis, dan penuh berkah.

Yang membuat prosesi ini semakin istimewa, total uang yang terkumpul dari tradisi saro-saro mencapai angka fantastis, yakni Rp 420 juta. Jumlah ini sekaligus memecahkan rekor sebagai hasil saro-saro tertinggi di wilayah Maluku Utara.

Bagi masyarakat setempat, saro-saro bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan wujud nyata solidaritas dan kebersamaan. Nilai gotong royong dan kepedulian sosial tercermin kuat dalam setiap pemberian yang diserahkan kepada pengantin.

Perayaan di Desa Busua pun menjadi bukti bahwa tradisi lokal tetap hidup dan berkembang, bahkan mampu menciptakan momen bersejarah yang membanggakan. Di tengah modernisasi, saro-saro tetap menjadi simbol kearifan lokal yang mempererat hubungan sosial sekaligus menguatkan nilai-nilai budaya masyarakat Maluku Utara.

 

Red, BanoaTV