BACAN, BanoaTV – Di sebuah rumah kecil berdinding papan rapuh di Desa Kampung Baru, Kecamatan Kepulauan Botang Lomang, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, Asni Aman (55 tahun) menjalani hari-harinya dengan ketegaran yang luar biasa. Ia bukan hanya seorang pengasuh Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), tetapi juga tulang punggung keluarga yang kini menggantikan peran suaminya sebagai kepala rumah tangga.

Pasalnya, suami Asni saat ini tengah berjuang melawan penyakit yang dideritanya dan harus rutin menjalani kontrol medis di Labuha. Kondisi tersebut memaksa Asni mengambil alih seluruh tanggung jawab keluarga, termasuk menafkahi dua orang anaknya, di tengah keterbatasan ekonomi yang menghimpit.

Tampak Asni Aman saat berbincang dengan awak media pers diruang tamunya. (Doc:BNTV)

Dengan penghasilan sebagai pengasuh PAUD yang hanya sekitar Rp500 ribu per bulan, Asni sadar bahwa gaji tersebut jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun, keadaan tak pernah membuatnya menyerah. Setelah mengajar, ia berkeliling menjual sagu demi menambah penghasilan keluarga.

“Iya, suami saya sakit, sekarang sementara di Labuha karena harus kontrol di rumah sakit. Saya hanya berharap dia bisa cepat sehat,” ujar Asni dengan menyimpan harapan besar di balik raut wajah lelahnya.

Sejak mulai mengajar PAUD pada tahun 2013, Asni telah mengabdikan dirinya untuk pendidikan anak-anak di desanya. Meski demikian, ia tak pernah menggantungkan hidup sepenuhnya pada profesi tersebut. Setiap pulang sekolah, ia kembali bergelut dengan aktivitas jualan sagu untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga.

“Kalau sudah pulang mengajar, saya harus bajual sagu supaya bisa penuhi torang punya kebutuhan di rumah. Karena suami ini sudah lama sakit dan tidak bisa bekerja, jadi saya yang harus berjuang untuk torang punya hidup,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca saat ditemui wartawan bersama Pengurus Himpunan Mahasiswa Botang Lomang (HIPMABOL), Minggu (11/01/2026).

Foto: Nampak Belakang Rumah Asni Aman (Doc:BNTV)

Ironisnya, kondisi rumah yang ditempati Asni bersama keluarga jauh dari kata layak. Dinding papan rumah tersebut tampak nyaris roboh akibat kayu yang telah lapuk. Atap rumah pun berlubang-lubang karena hanya terbuat dari daun sagu.

Asni mengaku, rumahnya sudah beberapa kali didatangi oleh pihak terkait untuk difoto dengan janji akan diberikan bantuan. Namun hingga kini, bantuan yang dijanjikan tak pernah terealisasi.

“Sudah beberapa kali dorang (mereka red) datang foto-foto katanya mau kasih bantuan, tapi sampai sekarang belum ada bantuan yang datang,” ungkapnya dengan nada pasrah, mengakhiri perbincangan bersama mahasiswa dan awak media yang saat itu berkunjung dirumahnya didampingi Ketua BPD Desa Kampung Baru.

Meski dengan segala keterbatasan yang ia alami, Asni Aman tetap berdiri tegak sebagai simbol keteguhan seorang perempuan, pendidik, sekaligus ibu yang tak pernah lelah berjuang demi keluarganya.

Untuk diketahui, ini aadalah sebuah potret nyata tentang ketabahan yang masih sering luput dari  perhatian dan tangggung jawab pemerintah. Pasalnya, menurut Ketua BPD Desa Kampung Baru,  rumah tidak layak huni di Desa tersebut sudah sering didatangi pemerintah provinsi dan kabupatan untuk di data namun sampai saat belum ada tindaklanjut.

(Red)

Editor: Redaksi BanoaTV