Ternate, BanoaTV – Ketua Sentral Mahasiswa Halmahera Barat (Sema-Habar) Ternate, Riwan Basir, bersama anggota melakukan ziarah ke makam para wali, tokoh agama, dan leluhur di Kampung Tua Idamdehe, Jumat, 22 Mei 2026.

Rombongan pertama berziarah ke _zereh_ di Desa Payo Tengga dan Bobo, tempat dimakamkannya para Habib yang menyebarkan ajaran agama kepada masyarakat Pabos. Kegiatan dilanjutkan dengan ziarah ke makam leluhur “Kubur Sayah” di Bukit Idamdehe, yang menurut cerita masyarakat lokal merupakan tempat dimakamkannya pembuka Kampung Desa Idamdehe Tua.

“Sebagai generasi muda, kita perlu menghormati leluhur yang sudah pergi duluan. Kita tidak boleh melupakan jasa mereka semasa hidup. Kalau bukan karena mereka, kita tidak ada,” ujar Riwan Basir.

Riwan menilai, perusahaan panas bumi geothermal yang beroperasi di Desa Idamdehe, seperti PT Geo Dipa Energi, PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI), CBN, dan perusahaan galian C lainnya, belum memberikan perhatian terhadap situs karamat tersebut.

“Seharusnya PT Geo Dipa Energi dan semua perusahaan yang bekerja sama di panas bumi geothermal punya tanggung jawab terhadap makam karamat, zereh, dan Kubur Sayah di Bukit Idamdehe. Pemerintah maupun perusahaan harus melihat kondisi dan membangun Makam Kubur Sayah tersebut,” tegasnya.

Ia meminta perusahaan menghormati tempat yang dikeramatkan masyarakat adat dan tidak melakukan penggusuran atau penghancuran jika wilayah itu masuk dalam area operasi. Jika akses menuju kuburan leluhur memerlukan perbaikan, perusahaan diharapkan membantu sebagai bentuk itikad baik atas pemanfaatan sumber energi panas bumi di Idamdehe.

Senada, Ditoks, Ketua Bidang Pendidikan Sema-Habar Ternate, menyampaikan kekhawatiran atas aktivitas eksploitasi geothermal. Menurutnya, kampung Payo, Bobo, dan Saria (Pabos) dikenal dengan penghormatan tinggi terhadap para habaib yang menjadi pedoman kehidupan keagamaan dan spiritualitas masyarakat.

“Kehidupan masyarakat Pabos sangat bergantung pada sumber air tanah untuk kebutuhan sehari-hari. Kami khawatir jika PT Geodipa melakukan pengeboran dan pengambilan sumber panas, maka bisa mengancam sumber mata air. Bisa saja air tercampur zat-zat kimia nantinya,” kata Ditoks.

Riwan Basir menutup dengan imbauan agar perusahaan menghormati kebudayaan masyarakat adat setempat.

“Penting menjaga apa yang sudah ada di masyarakat setempat. Jangan sampai wilayah dan tempat yang dikeramatkan diganggu ketika operasi geothermal sudah berjalan,” ujarnya.

 

Red, BanoaTV